Indonesia mulai merasakan dampak pemanasan global (global warming) yang dibuktikan dari berbagai perubahan iklim maupun bencana alam yang terjadi."Sudah banyak ditemukan dampak pemanasan global di Indonesia," kata koordinator kampanye bidang iklim dan energi World Wild Fund (WWF) Indonesia, Verena Puspawardhani di Banda Aceh, Sabtu (30/6).Dampak pemanasan global itu di antaranya, terjadinya perubahan musim di mana musim kemarau menjadi lebih panjang sehingga menyebabkan gagal panen, krisis air bersih dan kebakaran hutan.Dampak lainnya yaitu hilangnya berbagai jenis flora dan fauna khususnya di Indonesia yang memiliki aneka ragam jenis seperti pemutihan karang seluas 30 persen atau sebanyak 90-95 persen karang mati di Kepulauan Seribu akibat naiknya suhu air laut."Pemanasan global juga memicu meningkatnya kasus penyakit tropis seperti malaria dan demam berdarah. setiap tahunnya di Indonesia semakin banyak pasien penderita penyakit ini," kata Verena.Selain itu, penelitian dari Badan Meteorologi dan Geofisika menyebutkan, Februari 2007 merupakan periode dengan intensitas curah hujan tertinggi selama 30 tahun terakhir di Indonesia. Hal ini menandakan perubahan iklim yang disebabkan pemanasan global.Indonesia yang terletak di equator, merupakan negara yang pertama sekali akan merasakan dampak perubahan iklim. Dampak tersebut telah dirasakan yaitu pada 1998 menjadi tahun dengan suhu udara terpanas dan semakin meningkat pada tahun-tahun berikutnya.
Diperkirakan pada 2070 sekitar 800 ribu rumah yang berada di pesisir harus dipindahkan dan sebanyak 2.000 dari 18 ribu pulau di Indonesia akan tenggelam akibat naiknya air laut.Perubahan iklim yang disebabkan pemanasan global telah menjadi isu besar di dunia. Mencairnya es kutub utara dan kutub selatan yang akan menyebabkan kepunahan habitat di sana merupakan bukti dari pemanasan global.Pemanasan global disebabkan kegiatan manusia yang mengasilkan emisi gas rumah kaca dari industri, kendaraan bermotor, pembangkit listrik bahkan menggunaan listrik berlebihan."Karena itu yang harus dilakukan untuk mengatasi ancaman pemanasan globala adalah melakukan penghematan energi listrik, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, menghentikan penebangan dan pembakaran hutan," katanya.Verena menambahkan, pemerintah harus didesak untuk menggunakan energi terbarukan seperti matahari, air dan angin yang lebih ramah lingkungan.
Selasa, 10 Juni 2008
Pengenalan Internet
Siapa yang belum tahu tentang internet? Saat ini hampir semua orang tahu internet dan tahu bagaimana menggunakannya untuk kehidupan sehari-hari. Internet adalah sumber informasi, sekumpulan komputer yang terhubung satu sama lain, tempat chatting, browsing dan lain sebagainya.
Jaringan komputer
Berbicara mengenai internet tentu tidak lepas dari yang namanya jaringan komputer. Apa itu jaringan komputer? Jaringan komputer bisa dikatakan sebagai suatu kumpulan komputer yang terhubung satu sama lain melalui perangkat keras dan juga perangkat lunak. Hubungan dalam arti perangkat keras maksudnya adalah komputer-komputer ini terhubung secara fisik misalnya melalui sambungan telepon, fiber optic, ethernet, router, gateway dan juga komputer itu sendiri. Sedangkan perangkat lunak membuat perangkat-perangkat keras tadi bisa berkomunikasi dan bertukar data satu sama lain. Jaringan komputer juga bersifat interoperable yang artinya berbagai macam komputer yang berbeda tadi dan bahkan juga menggunakan sistem operasi yang berbeda dapat saling terhubung dan berkomunikasi satu sama lain selama mereka mengikuti suatu protokol standar yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Bagaimana dengan internet?
Internet bisa dikatakan sebagai suatu jaringan yang menghubungkan banyak jaringan yang lain. Internet sifatnya sangat global dan tidak tersentralisasi. Internet juga identik dengan service yang berjalan di atasnya seperti web, e-mail, ftp dan lain sebagainya.
Internet bisa berjalan dengan baik karena diatur dengan yang namanya protokol. Protokol adalah suatu tata cara atau aturan yang disepakati oleh semua pihak untuk melakukan suatu service tertentu, misalnya bagaimana cara meng-configue hardware, menulis aplikasi program dan lain sebagainya. Internet sendiri berbasis pada protokol yang bernama TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol). Pada lapisan atas dari TCP/IP ini berjalan pula protokol-protokol untuk aplikasi seperti SMTP (Simple Mail Transfer Protocol) yang mengatur tata cara e-mail, HTTP (Hypertext Transfer Protocol) yang mengatur tata cara berselancar di internet berbasis hypertext atau juga FTP (File Transfer Protocol) yang mengatur tata cara mengirim file dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Bagaimana jika tidak ada protokol yang mengatur semua itu? Internet maupun service-service yang ada di atas intenet tidak akan bisa berjalan jika tidak ada protocol.
Jaringan komputer
Berbicara mengenai internet tentu tidak lepas dari yang namanya jaringan komputer. Apa itu jaringan komputer? Jaringan komputer bisa dikatakan sebagai suatu kumpulan komputer yang terhubung satu sama lain melalui perangkat keras dan juga perangkat lunak. Hubungan dalam arti perangkat keras maksudnya adalah komputer-komputer ini terhubung secara fisik misalnya melalui sambungan telepon, fiber optic, ethernet, router, gateway dan juga komputer itu sendiri. Sedangkan perangkat lunak membuat perangkat-perangkat keras tadi bisa berkomunikasi dan bertukar data satu sama lain. Jaringan komputer juga bersifat interoperable yang artinya berbagai macam komputer yang berbeda tadi dan bahkan juga menggunakan sistem operasi yang berbeda dapat saling terhubung dan berkomunikasi satu sama lain selama mereka mengikuti suatu protokol standar yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Bagaimana dengan internet?
Internet bisa dikatakan sebagai suatu jaringan yang menghubungkan banyak jaringan yang lain. Internet sifatnya sangat global dan tidak tersentralisasi. Internet juga identik dengan service yang berjalan di atasnya seperti web, e-mail, ftp dan lain sebagainya.
Internet bisa berjalan dengan baik karena diatur dengan yang namanya protokol. Protokol adalah suatu tata cara atau aturan yang disepakati oleh semua pihak untuk melakukan suatu service tertentu, misalnya bagaimana cara meng-configue hardware, menulis aplikasi program dan lain sebagainya. Internet sendiri berbasis pada protokol yang bernama TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol). Pada lapisan atas dari TCP/IP ini berjalan pula protokol-protokol untuk aplikasi seperti SMTP (Simple Mail Transfer Protocol) yang mengatur tata cara e-mail, HTTP (Hypertext Transfer Protocol) yang mengatur tata cara berselancar di internet berbasis hypertext atau juga FTP (File Transfer Protocol) yang mengatur tata cara mengirim file dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Bagaimana jika tidak ada protokol yang mengatur semua itu? Internet maupun service-service yang ada di atas intenet tidak akan bisa berjalan jika tidak ada protocol.
Aow......Global Warming.........!!!!
.jpg)
Sejak dikenalnya ilmu mengenai iklim, para ilmuwan telah mempelajari bahwa ternyata iklim di Bumi selalu berubah. Dari studi tentang jaman es di masa lalu menunjukkan bahwa iklim bisa berubah dengan sendirinya, dan berubah secara radikal.
Pada abad 19, studi mengenai iklim mulai mengetahui tentang kandungan gas yang berada di atmosfer, disebut sebagai gas rumah kaca, yang bisa mempengaruhi iklim di Bumi. ‘Gas Rumah Kaca’, adalah suatu efek, dimana molekul-molekul yang ada di atmosfer kita bersifat seperti memberi efek rumah kaca. Efek rumah kaca sendiri, seharusnya merupakan efek yang alamiah untuk menjaga temperatur permukaaan Bumi berada pada temperatur normal, sekitar 30°C, atau kalau tidak, maka tentu saja tidak akan ada kehidupan di muka Bumi ini.
Pada sekitar tahun 1820, bapak Fourier menemukan bahwa atmosfer itu sangat bisa diterobos (permeable) oleh cahaya Matahari yang masuk ke permukaan Bumi, tetapi tidak semua cahaya yang dipancarkan ke permukaan Bumi itu bisa dipantulkan keluar, radiasi merah-infra yang seharusnya terpantul terjebak, dengan demikian maka atmosfer Bumi menjebak panas (prinsip rumah kaca). Tiga puluh tahun kemudian, bapak Tyndall menemukan bahwa tipe-tipe gas yang menjebak panas tersebut terutama adalah karbon-dioksida dan uap air, dan molekul-molekul tersebut yang akhirnya dinamai sebagai gas rumah kaca, seperti yang kita kenal sekarang. Arrhenius kemudian memperlihatkan bahwa jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatgandakan, maka peningkatan temperatur permukaan menjadi sangat signifikan.
Tetapi, atmosfer tidaklah sesederhana model perhitungan tersebut, kenyataannya peningkatan temperatur bisa lebih dari 1°C karena ada faktor-faktor seperti, sebut saja, perubahan jumlah awan, pemantulan panas yang berbeda antara daratan dan lautan, perubahan kandungan uap air di udara, perubahan permukaan Bumi, baik karena pembukaan lahan, perubahan permukaan, atau sebab-sebab yang lain, alami maupun karena perbuatan manusia. Bukti-bukti yang ada menunjukkan, atmosfer yang ada menjadi lebih panas, dengan atmosfer menyimpan lebih banyak uap air, dan menyimpan lebih banyak panas, memperkuat pemanasan dari perhitungan standar.
Sejak tahun 2001, studi-studi mengenai dinamika iklim global menunjukkan bahwa paling tidak, dunia telah mengalami pemanasan lebih dari 3°C semenjak jaman pra-industri, itu saja jika bisa menekan konsentrasi gas rumah kaca supaya stabil pada 430 ppm CO2e (ppm = part per million = per satu juta ekivalen CO2 - yang menyatakan rasio jumlah molekul gas CO2 per satu juta udara kering). Yang pasti, sejak 1900, maka Bumi telah mengalami pemanasan sebesar 0,7°C.
Pada abad 19, studi mengenai iklim mulai mengetahui tentang kandungan gas yang berada di atmosfer, disebut sebagai gas rumah kaca, yang bisa mempengaruhi iklim di Bumi. ‘Gas Rumah Kaca’, adalah suatu efek, dimana molekul-molekul yang ada di atmosfer kita bersifat seperti memberi efek rumah kaca. Efek rumah kaca sendiri, seharusnya merupakan efek yang alamiah untuk menjaga temperatur permukaaan Bumi berada pada temperatur normal, sekitar 30°C, atau kalau tidak, maka tentu saja tidak akan ada kehidupan di muka Bumi ini.
Pada sekitar tahun 1820, bapak Fourier menemukan bahwa atmosfer itu sangat bisa diterobos (permeable) oleh cahaya Matahari yang masuk ke permukaan Bumi, tetapi tidak semua cahaya yang dipancarkan ke permukaan Bumi itu bisa dipantulkan keluar, radiasi merah-infra yang seharusnya terpantul terjebak, dengan demikian maka atmosfer Bumi menjebak panas (prinsip rumah kaca). Tiga puluh tahun kemudian, bapak Tyndall menemukan bahwa tipe-tipe gas yang menjebak panas tersebut terutama adalah karbon-dioksida dan uap air, dan molekul-molekul tersebut yang akhirnya dinamai sebagai gas rumah kaca, seperti yang kita kenal sekarang. Arrhenius kemudian memperlihatkan bahwa jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatgandakan, maka peningkatan temperatur permukaan menjadi sangat signifikan.
Tetapi, atmosfer tidaklah sesederhana model perhitungan tersebut, kenyataannya peningkatan temperatur bisa lebih dari 1°C karena ada faktor-faktor seperti, sebut saja, perubahan jumlah awan, pemantulan panas yang berbeda antara daratan dan lautan, perubahan kandungan uap air di udara, perubahan permukaan Bumi, baik karena pembukaan lahan, perubahan permukaan, atau sebab-sebab yang lain, alami maupun karena perbuatan manusia. Bukti-bukti yang ada menunjukkan, atmosfer yang ada menjadi lebih panas, dengan atmosfer menyimpan lebih banyak uap air, dan menyimpan lebih banyak panas, memperkuat pemanasan dari perhitungan standar.
Sejak tahun 2001, studi-studi mengenai dinamika iklim global menunjukkan bahwa paling tidak, dunia telah mengalami pemanasan lebih dari 3°C semenjak jaman pra-industri, itu saja jika bisa menekan konsentrasi gas rumah kaca supaya stabil pada 430 ppm CO2e (ppm = part per million = per satu juta ekivalen CO2 - yang menyatakan rasio jumlah molekul gas CO2 per satu juta udara kering). Yang pasti, sejak 1900, maka Bumi telah mengalami pemanasan sebesar 0,7°C.
Langganan:
Postingan (Atom)
